rahku.com – Maleficent” (2014) adalah film yang mengubah sudut pandang kita terhadap karakter klasik Maleficent yang dikenal sebagai antagonis dalam cerita “Sleeping Beauty.” Film ini menyajikan cerita dari perspektif Maleficent sendiri, mengungkapkan sisi gelap dan alasan dibalik tindakan-tindakannya.
Dalam versi tradisional, Maleficent digambarkan sebagai sosok yang jahat yang mengutuk Putri Aurora. Namun, dalam “Maleficent,” kita melihat bahwa karakter tersebut sebenarnya adalah seorang peri starlight princess maxwin yang terluka dan dikhianati, yang pada akhirnya membuatnya menjadi sosok yang penuh dendam. Maleficent dulunya adalah peri yang baik hati yang sangat mencintai hutan dan makhluk-makhluk di sekitarnya, sampai suatu ketika ia dikhianati oleh seorang manusia yang menyayat hatinya—Stefan, yang kemudian menjadi raja.
Sisi gelap Maleficent muncul bukan hanya karena rasa sakit yang dia alami, tetapi juga karena keputusan yang diambilnya untuk membalas dendam. Keputusan tersebut membawa perubahan besar, namun film ini juga menggambarkan bahwa di balik kemarahan dan kekuatan jahat, ada sisi manusiawi yang mampu berubah seiring dengan perasaan cinta dan pengorbanan.
Film ini menawarkan perspektif yang lebih kompleks tentang apa yang dapat mendorong seseorang untuk menjadi “jahat,” serta menunjukkan bahwa kebaikan dan kejahatan sering kali tidak begitu jelas dan bisa bergradasi, tergantung dari bagaimana seseorang melihat situasi tersebut.
Penyajian sisi gelap Maleficent ini tentu berbeda dari cerita klasik dan memberikan dimensi baru pada karakter yang sebelumnya hanya dianggap sebagai penjahat.